Akhirnya Menjadi Penerjemah Game

Saya tidak pernah menduga bahwa saya akan menjadi seorang penerjemah game. Tadinya, saya cukup puas menerjemahkan komik dan novel, hingga akhirnya suatu hari di bulan April 2020 saya iseng melamar untuk menerjemahkan game.

Saya tidak menduga bahwa saya akhirnya lulus dalam tes penerjemahan game yang diadakan oleh salah satu agensi penerjemahan di Indonesia. Awalnya saya sangat pesimis, karena dalam persyaratannya, seorang penerjemah game haruslah seorang yang menyukai game (setidaknya pernah bermain game online). Sebaliknya, saya hanya memainkan game jadul NES (Nintendo Entertainment System) yang populer di tahun 1990an, yang mana saat itu saya masih kecil. Tentunya game NES sangat berbeda dengan game online masa kini.

Saya pun akhirnya dipercaya mengerjakan proyek terjemahan game. Karena saya masih cupu, saya diberikan kepercayaan untuk menerjemahkan dengan volume kecil. Saya sempat dibimbing oleh seorang penerjemah senior secara kilat. Meski begitu, saya mengalami banyak kesulitan saat mengerjakannya karena begitu banyak istilah game yang saya tidak mengerti. Saya banyak bertanya kepada senior saya itu.

Saya akhirnya disarankan beliau untuk mencoba bermain game online setelah proyek selesai. Game apa saja. Tujuannya adalah supaya saya bisa merasakan dan mengerti apa saja unsur-unsur dalam game online, supaya suatu saat nanti ketika saya menerjemahkan game, saya sudah terbiasa.

Saya menurutinya. Setelah proyek berakhir, saya mengunduh salah satu game MMORPG (Massively Multiplayer Online Role Playing Games) yang sangat terkenal, yaitu Dragon Nest Mobile (DNM). Game ini diluncurkan oleh sebuah penerbit game asal Korsel, Eyedentity, tapi akhirnya lisensinya dibeli oleh salah satu penerbit game asal Tiongkok. Maka, tak heran, unsur Tionghoa sangat kental di sini. Salah satunya adalah event angpao. Namun, dialog para NPC (Non Playable Character) tetap memakai bahasa Korea. Penerbit-penerbit game asal Tiongkok memang dikenal selalu memasukkan unsur budaya Tionghoa dalam produk-produk mereka.

Setelah memainkan game ini selama beberapa saat, saya mengetahui unsur-unsur dalam game online, yang akhirnya membawa saya lulus dalam tes-tes penerjemahan game berikutnya (meski banyak juga yang gagal).

Tak hanya pengalaman, dengan bermain game online, saya juga mendapatkan teman bermain dari sana. Meski begitu, game online juga merupakan dunia yang tidak sepenuhnya aman, maka dari itu saya juga tetap menutup rapat identitas saya di sana. Saya juga tidak sepenuhnya seratus persen percaya dengan apa yang pemain lain katakan mengenai dirinya. Dunia game online adalah dunia maya. Seseorang bisa mengaku menjadi siapa saja dengan mudahnya.

Dragon Nest Mobile. All credit and thanks to all members of Immortal guild.

Dragon Nest Mobile. All credit and thanks to all Immortal guild members.

Saya bermain dengan para pemain asal Filipina. Mereka sangat baik dan ramah, meski saya tidak tahu apa yang mereka perbincangkan di menu guild chat, karena komunikasi mereka dalam bahasa Tagalog. Satu-satunya identitas saya yang mereka tahu adalah saya berasal dari Indonesia. Itu pun karena ada beberapa pemain yang penasaran mengapa saya tidak pernah membalas chat pribadi mereka yang berbahasa Tagalog. Akhirnya mereka menanyakan apakah saya berasal dari Filipina atau bukan. Karena menurut teman saya yang tinggal di Filipina, hanya orang-orang dari keluarga elit dan menengah atas yang selalu berkomunikasi dengan bahasa Inggris, meski bahasa Inggris adalah bahasa kedua mereka. Setelah mengetahui bahwa saya berasal dari Indonesia, mereka pun akhirnya memaklumi kesalah pahaman selama ini.

Saya sangat senang bermain dengan mereka, karena melatih kerja sama tim. Saya sering diajak farming, grinding, bahkan saya diajari menyempurnakan skillset, strategi PvP atau saat bertanding melawan guild lainnya, yang tentunya secara tidak langsung memberikan pengaruh pada pekerjaan saya. Selain itu, ikatan persahabatan kami juga makin erat, meski hanya dalam game. Tak hanya itu. Karena mereka bukanlah teman senegara saya, mau tak mau saya harus terus berkomunikasi dengan bahasa Inggris, yang akhirnya juga mengasah kembali keahlian bahasa Inggris saya. Untungnya, semua orang Filipina mengerti bahasa Inggris.

Lain Dragon Nest, lain pula Dragon Raja. Di Dragon Raja, semua teman guild saya adalah orang-orang yang saya kenal di dunia nyata. Oleh karena itu, kami tidak canggung lagi kalau ada yang meminta bantuan untuk grinding atau farming. Mereka pun tidak pernah melontarkan kata-kata yang tidak pantas di chat guild. Game is just for fun. Selain itu, bukankah lebih menyenangkan jika bermain bersama teman-teman sendiri?

Meski saya bukan seorang atlet esport profesional dan bukan pecandu game, tapi bermain game online membawa manfaat tersendiri bagi saya. Saya bisa melepaskan penat dan bersenang-senang.

3 tanggapan pada “Akhirnya Menjadi Penerjemah Game”

  1. Halo Bu Silvia, pertama-tama pengalamannya keren banget. Perkenalkan saya Ellen, penerjemah freelance mandarin yang masih pemula. Aku pengen sekali belajar penerjemahan game, karena untukku bidang game ini yang masih jadi faktor penghambat di awal karir ini. Aku sudah berhasil menerjemahkan novel dan cukup berpengalaman untuk subtitle. Tapi untuk game, aku pernah disuruh menjadi proofreader game Pokemon (yang entah kenapa tesnya lulus) tapi ketika mengerjakan proofread yang jumlahnya puluhan ribu kata itu, jujur cukup bikin syok. Selain bahasanya yang dalam sekali, tapi aku mengerjakannya di excel karena belum mahir Trados. Dari pihak kliennya menyarankan pakai excel tidak apa-apa. Tapi pada hasil akhirnya, mereka tidak puas karena setiap kalimat di game yang maknanya sama tidak sama persis kalimatnya. Jadi ini pengalaman game yang cukup mengecewakan dan bikin saya drop kepercayaan dirinya. Setelahnya, saya pernah disuruh ikut tes game lain oleh pihak lain (saya sudah mengingatkan bahwa saya kurang berpengalaman di game) dan memang hasil tesnya tidak lolos. Padahal di tes tersebut saya sudah menggunakan banyak kata-kata spesial yang saya pelajari dari pengalaman sebelumnya seperti S.ATK, Heal, DMG dll serta nama-nama tempat game saya research dulu, kalau tidak ada glosary-nya baru saya samakan dengan Bahasa Inggrisnya. Tapi tidak lolos (Sepertinya karena penerjamahan artinya benar, tapi tipe kalimatnya dibilang tidak cocok dengan game, mungkin karena ada batasan maksimal kata di dunia game?)
    Sementara jujur, untuk pengetesan game Pokemon itu saya kerjakan ketika masih buta dengan spesialis dunia game, banyak menggunakan bahasa Indonesia tanpa kalimat spesialnya itu.

    Jadi saya masih pemula yang masih cupu sekali di dunia game, namun saya haus untuk belajar menekuni bidang ini. Entah apakah ada saran dari Ibu untuk saya jika berkenan, terima kasih sebelumnya 🙂

    1. Halo, Kak Ellen, salam kenal. Mohon maaf, saya baru balas sekarang. Kesibukan kursus daring, pekerjaan, dan keluarga cukup menyita waktu saya, sehingga tidak sempat cek blog. Keren, saya awal-awal ingin jadi penerjemah, pengin banget menerjemahkan film, tapi mungkin jodohnya di game. Benar sekali, bahasa game itu berbeda dengan teks terjemahan biasa. Saya awalnya bukan gamer, tapi karena tuntutan pekerjaan, sesekali saya main game dan bergabung di komunitas gamer dan mengikuti beberapa fan page resminya di Facebook. Istilah-istilah seperti DMG, Crit, Buff, DEF, memang ada di internet, tapi sewaktu saya belum memainkan gamenya, saya masih juga belum mengerti dan benar-benar paham setelah memainkannya. Kadang saya juga menanyakan kepada teman-teman di komunitas gamer, bahkan mereka mengajari saya. Hahaha…

      Kita sama-sama belajar, kok, saya juga masih pemula. Kalau saran dari saya (ini saran dari salah satu manajer proyek juga), kita main saja game apa pun saat kita senggang, lalu ubah bahasanya ke bahasa Indonesia. Kita perhatikan bagaimana terjemahannya, mulai dari detail misi/tugas, cerita, deskripsi, dll. Game yang ada di ponsel saya sekarang adalah Wild Rift, Dragon Raja, Coin Master, World of Dragon Nest (sudah tutup kalau yang ini).

      Proses penerjemahan misi/tugas adalah salah satu yang paling krusial, karena harus singkat, padat, jelas, dan mudah dimengerti pemain, karena tempatnya juga terbatas. Untuk ini saya mengambil kursus UX Writing, karena bagaimana cara membuat tulisan yang singkat, padat, dan jelas ada di sana.

      Demikian semoga saran saya membantu. Sukses selalu, ya.

      1. Terima kasih Kak Silvia, tulisannya sangat membantu. Memang mungkin saya ‘belum jodoh’ sama bidang game, hehehe. Tapi saya pelajari juga pelan-pelan. Sebelumnya memang merasa ‘tersesat’, bingung kalau sama terjemahan game. Tapi saran dari Kak Silvia bikin semangat lagi. Thank you so much, salam dan sukses selalu ya, Kak 🙂

Tinggalkan Balasan