Asal Mula Huruf Mandarin

  • by

Selama masa belajar dengan guru saya, saya merasa beruntung karena beliau tak hanya mengajarkan kepada saya bahasa Mandarin, melainkan juga budaya. Saya diperkenalkan dengan budaya Tionghoa yang luar biasa. Guru saya sering menceritakan bahkan memberikan salinan mengenai legenda dan budaya nenek moyang, sehingga membuat saya makin mencintai bahasa Mandarin. Bahkan, guru saya juga mengatakan bahwa huruf Mandarin telah ada sejak kurang lebih 3.000 tahun yang lalu dan mengalami perkembangan hingga hari ini dan tetap akan terus berkembang!

Saya dulu sering bertanya-tanya, mengapa bangsa Tiongkok menggunakan huruf Mandarin sebagai alat komunikasi, bukannya menggunakan abjad Latin yang notabene jauh lebih mudah. Rasa penasaran saya pun akhirnya terjawab.

Ketika Kaisar Kuning (2698-2598 SM) berhasil menyatukan Tiongkok untuk pertama kalinya, beliau menyuruh seseorang bernama Cangjie untuk mencatat jumlah persediaan bahan makanan dan hasil panen. Kaisar Kuning mempercayakan tugas tersebut kepada Cangjie karena Cangjie dikenal sebagai orang yang sangat pandai pada masanya. Karena pada saat itu belum ditemukan penulisan, Cangjie merasa kesulitan mengingat semua jumlah stok maupun panen. Berdasarkan legenda, Cangjie adalah seorang pria yang memiliki empat mata.

Suatu ketika, saat Cangjie hendak pergi berburu bersama beberapa orang kepercayaannya, mereka tiba di sebuah persimpangan jalan. Mereka akhirnya sibuk berargumen jalan mana yang harus mereka pilih. Kemudian, Cangjie menyadari bahwa hasil voting terbanyak yang dipilih oleh orang-orang kepercayaannya adalah berdasarkan jejak kaki di tanah. Hal inilah yang kemudian menginspirasi Cangjie untuk membuat sistem penulisan berdasarkan benda-benda alam yang dilihatnya, seperti contohnya bulan, matahari, gunung, dan lain sebagainya. Kaisar Kuning pun sangat senang dengan kerja keras Cangjie dan sejak saat itu, huruf-huruf yang dibuat Cangjie mulai diperkenalkan dan diajarkan kepada masyarakat Tiongkok kuno.

Sistem penulisan Cangjie inilah yang dinamakan sebagai radikal goresan, yang kemudian diajarkan oleh guru saya, sehingga mempelajari bahasa Mandarin jauh lebih mudah, karena sistem Cangjie dirancang bagi siapa saja yang mempelajarinya untuk memahami simbol, bukan menghafal. Jadi, meski saya tidak tahu arti dari suatu karakter Mandarin, cukup hanya dengan mengenali apa radikalnya, saya sudah bisa menebak atau mengira-ngira apa artinya. Jika dianalogikan, mungkin sama seperti kita bisa memahami apa arti dari rambu-rambu lalu lintas yang ada di jalan.

Sebagai contoh, 林 lin (hutan), 椅 yi (kursi), 桌 zhuo (meja) memiliki radikal yang sama, yaitu 木 mu (kayu). Jadi, karakter apa saja yang memiliki radikal 木 pasti berhubungan dengan kayu.

Selama berabad-abad, huruf Mandarin mengalami perkembangan zaman, dan guratannya pun makin lama menjadi makin sederhana. Bahkan, kebudayaan Tionghoa adalah salah satu kebudayaan yang tertua di dunia!

Bahkan, kosakata bahasa Mandarin tak lekang oleh zaman. Meskipun zaman modern banyak terdapat kata serapan baru, tapi bahasa Mandarin seolah selalu bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman, dengan cara menggunakan logika atau gabungan dari kata yang sudah ada sebelumnya, sehingga membentuk kosakata baru.

Sebagai contoh, saat wabah koronavirus melanda dunia, saya mendapati bahwa bahasa Mandarin untuk koronavirus adalah 冠状病毒 guanzhuang bingdu. Kosakata ini tidak ditemukan di kamus bahasa Mandarin modern. 冠 guan berarti topi, atau sesuatu yang menyerupai topi, 状 zhuang berarti rupa/penampilan. Sedangkan 病毒 bingdu memiliki arti virus. Jadi, 冠状病毒 guanzhuang bingdu adalah virus yang bentuknya seperti/menyerupai topi! Hebat, kan, budaya nenek moyang bangsa Tiongkok!

Tinggalkan Balasan