Awal yang Baru

  • by

Sejak tahun 2015 saya sudah memutuskan ingin bekerja dari rumah, kalau bisa. Pada saat itu, penghasilan saya saat saya bekerja di sebuah perusahaan asuransi boleh dibilang lumayan, meski saya bukan seorang agen top dengan penjualan tertinggi atau jabatan yang fantastis. Waktu saya banyak disita di luar, melawan macet dan polusi, teriknya matahari dan derasnya hujan. Hal itu membuat saya mulai berpikir untuk mendapatkan penghasilan dari rumah. Di sisi lain, saya juga tetap ingin dekat dengan keluarga.

Berbagai upaya saya coba, tapi tak membuahkan hasil berarti. Saya sudah berulang kali mencoba bisnis online, tapi hasilnya nihil. Tak ada cara lain selain saya tetap bertahan dan berdoa sambil berusaha mencoba peluang pekerjaan yang lain.

Beberapa tahun lamanya saya tak kunjung mendapatkan pekerjaan baru. Persaingan di tempat kerja saya pun semakin sengit dan tidak sehat. Saya juga mencoba melamar sebagai guru bahasa Mandarin di beberapa sekolah swasta, tapi selalu berakhir dengan penolakan. Kalaupun diterima, gajinya sangatlah sedikit, bahkan di bawah UMR kota tempat saya tinggal, padahal sekolahnya termasuk sekolah internasional.

Niatan untuk mengundurkan diri pun saya lupakan. Hingga suatu saat doa saya dikabulkan Tuhan dengan cara yang tidak biasa.

Bulan Juni 2019, saya mengikuti program Summer Camp di Beijing, Tiongkok, selama dua minggu. Saya mengikuti serangkaian pendidikan bahasa, seni, dan budaya Tionghoa di sana. Kebetulan saya punya beberapa teman yang tinggal di Beijing dan kami berencana kopi darat saat akhir pekan.

Di malam terakhir sebelum saya pulang, saya bertemu dengan salah satu teman saya. Saat itu, ia baru saja menikah dan bulan Desember 2018 ia sempat berbulan madu di Bali. Saya membawakannya beberapa suvenir sebagai hadiah pernikahan. Rupanya, suaminya bekerja di sebuah agensi penerjemahan di Beijing dan suaminya menawarkan kepada saya untuk mengikuti tes penerjemahan, karena pada saat itu salah satu kanal TV daring dari Tiongkok akan membuka layanannya di Indonesia dan mereka membutuhkan beberapa orang penerjemah yang akan bekerja secara freelance. Saya disarankan untuk ikut dan saya menyetujuinya.

Setelah saya tiba di Indonesia, saya pun mencoba mengikuti tes penerjemahan itu. Saya tidak berharap banyak. Di luar dugaan, dua minggu kemudian, saya dinyatakan lulus tes dengan nilai baik!

Saya pun segera dihubungi melalui WeChat dan mulai membicarakan proyek pekerjaan. Kemudian, saya diberikan dua episode serial drama romansa komedi yang berjudul The World Owes Me a First Love, atau dalam bahasa Mandarin berjudul 《世杰欠我一个初恋》。Drama berdurasi 24 episode ini ditayangkan di iQiyi pada bulan September 2019. Setelah saya selesai dan diberi bayaran, rupanya pihak agensi sangat senang dengan hasil kerja saya, demikian pula saya.

Poster resmi The World Owes Me a First Love. Diperankan oleh Xing Zhaolin dan Bai Lu.

Berbekal satu pengalaman itu, saya mulai memberanikan diri melamar ke sejumlah agensi di Tiongkok. Ada yang lolos tes penerjemahan dan saya mendapatkan proyek dari mereka, tapi banyak juga yang gagal. Semua proyek yang saya dapatkan bersifat hiburan, meliputi serial drama, komik, novel, dan yang terakhir video game.

Pada awal Januari 2020, saya mendapatkan kontrak penerjemahan novel, sehingga akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan asuransi tersebut di bulan Februari 2020, bertepatan dengan berakhirnya lisensi AAJI saya. Lisensi AAJI wajib dimiliki oleh semua agen asuransi di Indonesia dan diperbarui setiap tahun.

Banyak orang yang menyayangkan keputusan saya untuk mengundurkan diri dan memulai karier yang baru dari nol. Saya paham, karena saya bukan 1-2 tahun bekerja di sana, melainkan 10 tahun. Waktu yang tidak sebentar. Namun, saya berpendapat, saya berkarier di perusahaan tersebut sebagai jalan untuk meraih impian saya. Saya ingin sekolah lagi dan sekolah itu butuh biaya. Maka, setelah impian saya tercapai, seharusnya tidak menjadi masalah jika saya melepaskannya, selama saya mengundurkan diri secara baik-baik, dan manager saya pun menyetujui keputusan saya. Setelah saya mengundurkan diri, saya merasa sangat lega dan puas, seolah-olah beban berton-ton di pundak saya hilang dalam sekejap.

Di saat yang sama, pandemi coronavirus menyerang Indonesia dan pemerintah menyerukan kepada banyak perusahaan agar para karyawannya bekerja dari rumah. Untungnya, saya sudah terbiasa, karena sejak September 2019 saya sudah bekerja dari rumah, meski saat itu belum menangani banyak proyek.. Sejak saat saya mengundurkan diri, saya lebih getol mencari lowongan proyek di situs-situs penerjemahan, maupun yang saya cari sendiri dari hasil penelusuran Baidu. Bahkan, tak jarang tawaran proyek datang sendiri!

Tuhan benar-benar luar biasa! Selama kurun waktu 10 tahun saya diajarkan untuk bersabar sambil terus belajar dan berusaha. Rasa percaya diri saya pun tumbuh. Dengan pekerjaan baru saya ini, saya juga harus bisa mengatur waktu saya sendiri, dengan keluarga, sekaligus menjadi bos atas diri saya sendiri. Keuntungannya adalah saya lebih hemat biaya transportasi dan kosmetik. Karena bekerja di rumah, tentu wajah saya tidak perlu didempul dengan kosmetik tebal. Hehehe …

Jika saya kilas balik pengalaman ini, saya yakin saat saya berdoa pada tahun 2015 itu Tuhan meminta saya untuk menunggu. Entah apa jadinya jika saya langsung memutuskan untuk mengundurkan diri saat itu tanpa penghasilan pasti.

Tinggalkan Balasan