Festival Hantu dalam Kebudayaan Tionghoa

Dalam tradisi dan kepercayaan etnis Tionghoa, hari kelima belas bulan ketujuh dalam kalender bulan dikenal sebagai Festival Hantu, atau 中元节 zhongyuan jie. Tahun 2020 ini, Festival Hantu jatuh pada tanggal 2 September. Dalam literatur lain, festival ini juga dikenal sebagai Festival Ulambana.

Menurut legenda dan kepercayaan kuno, pintu neraka akan terbuka pada bulan hantu, yaitu bulan ketujuh kalender bulan, yang ternyata tahun ini awal bulan ketujuh kalender bulan bertepatan dengan malam satu Suro (19 Agustus 2020). Wew, kebetulan sekali, ya. Karena pintu neraka terbuka, maka arwah-arwah dari alam lain akan datang ke dunia ini untuk mengunjungi keluarga mereka di rumah. Masyarakat Tionghoa pada zaman dulu akan memberikan sesaji kepada mereka. Namun, sesaji ini diberikan bukan untuk menyembah para arwah, melainkan untuk menghormati mereka yang sudah meninggal. Bagaimanapun juga, para arwah ini dulunya adalah manusia yang pernah hidup di dunia. Pada saat festival ini, umumnya kelenteng-kelenteng akan mengadakan sembahyang rebutan, yaitu upacara untuk menghormati para arwah.

 

Aktivitas yang Dilakukan Selama Bulan Hantu

Masyarakat Tionghoa yang menganut kepercayaan Konghucu dan Taoisme umumnya akan membakar dupa, uang-uangan kertas dan aneka sesaji untuk menghormati para arwah. Mungkin kegiatan ini tak begitu terasa di Indonesia. Namun, saya beberapa tahun lalu pernah pergi ke Singapura bertepatan saat bulan arwah. Saat itu, saya mendapati bahwa banyak guest house di Singapura yang banting harga selama bulan arwah. Demikian pula dengan tiket pesawat. Saat saya berjalan menyusuri jalan-jalan dimana etnis Tionghoa bermukim, seperti di Chinatown, Aljunied, Ang Mo Kio, dll, saya melihat banyak sesaji yang diletakkan di pinggir jalan. Saya juga mencium bau dupa yang cukup menyengat dari beberapa depot dan toko yang saya lewati. Bahkan, saya juga diingatkan oleh resepsionis hotel untuk tidak kembali terlalu malam jika tidak ada keperluan mendesak.

Salah satu kelenteng yang ada di Singapura saat itu juga mengadakan layar tancap. Saya tidak datang ke sana, tapi menurut penuturan resepsionis hotel, bangku deret pertama sengaja dikosongkan dan orang-orang tidak diizinkan untuk duduk di sana. Tempat duduk deret pertama itu khusus untuk para arwah yang diyakini juga turut menonton pertunjukan. Semacam kursi VIP, begitu deh.

 

Perayaan festival hantu di Singapura. Sumber: Motherland SIngapore.

Hal-hal yang Tabu Dilakukan Selama Bulan Hantu

Sama seperti kultur dan budaya bangsa lain, masyarakat Tionghoa juga mempercayai ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama bulan hantu. Meski kita hidup di zaman modern, tapi memang kenyataannya masih ada sebagian orang yang mempercayainya. Hal ini tidak perlu diperdebatkan, cukuplah bagi kita untuk sekadar tahu saja.

Menurut legenda, anak kecil, manula, dan orang-orang yang sensitif (seperti memiliki mata batin atau indra keenam) disarankan untuk tidak berada di luar rumah hingga larut malam, karena energi dari makhluk tak kasat mata ini mencapai puncaknya pada bulan hantu. Orang-orang juga disarankan untuk tidak bersiul pada malam hari, karena itu artinya memanggil mereka yang tak terlihat oleh mata manusia biasa. Ada pula yang mengatakan agar kita tidak berenang atau mendekat ke wilayah yang berair, seperti pantai, karena diyakini ‘mereka’ berada di sana.

Bagi orang-orang yang memiliki keluarga yang sudah meninggal, mereka biasanya juga akan berdoa kepada arwah leluhur mereka di bulan hantu ini. Beberapa orang ada yang hanya memakan sayuran selama bulan ini. Bahkan, upacara pernikahan juga tabu untuk dirayakan selama bulan ini.

Terlepas dari apakah kita percaya atau tidak, tapi hal ini adalah bagian dari budaya nenek moyang kita pada zaman dahulu yang masih dilestarikan oleh beberapa kalangan hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan