Kami Belajar dan Sukses Bersama

Beijing, Tiongkok, 20 Juni 2019.

Sore itu, setelah saya menyelesaikan pelajaran, saya langsung kembali ke hotel tempat saya menginap. Saat melihat saya datang, resepsionis yang bertugas menyapa dan memberikan sebuah paket untuk saya yang sudah saya tunggu-tunggu kedatangannya sejak saya tiba di Beijing.

Paket itu dikirim oleh Ma Pengfei, seorang sahabat saya asal Yulin, Provinsi Shaanxi. Ma Pengfei adalah salah satu teman yang saya kenal melalui Quora Internasional pada awal tahun 2017, sebelum akhirnya Quora diblokir di daratan Tiongkok. Ia adalah seorang mahasiswa pasca sarjana yang menimba ilmu di Hunan University, Changsha, jurusan Teknik Sipil. Saat saya mengikuti Summer Camp di Beijing, Pengfei sudah menyelesaikan studi masternya dan pulang ke kampung halamannya, selagi mempersiapkan keberangkatannya ke Amerika Serikat pada bulan Agustus 2019 untuk melanjutkan studi doktoralnya.

Paket tersebut berisi sebuah kamus bahasa Mandarin terbitan Oxford University Press yang sudah lama saya idam-idamkan. Bahkan, saya sudah lama menyisihkan sejumlah uang untuk membeli kamus tersebut ketika saya sudah menginjakkan kaki di Beijing. Namun, Pengfei justru memberikan kamus miliknya kepada saya. Meskipun bukan edisi terbaru, tapi kondisinya masih sangat bagus. Katanya, itu adalah sebuah hadiah untuk saya, karena saya sudah membantunya.

Kilas balik di tahun 2018, suatu saat, Pengfei menghubungi saya dan menyatakan niatnya untuk melanjutkan studi doktoralnya ke Inggris atau ke AS. Ia meminta saya untuk memeriksa CV-nya yang dalam bahasa Inggris, mengingat saya adalah Sarjana Sastra Inggris. Memang selama ini kami saling berbagi ilmu. Saya mendampinginya belajar bahasa Inggris, sedangkan dia membantu saya belajar bahasa Mandarin. Dengan senang hati, saya membantunya merevisi tata bahasa Inggris yang salah di CV-nya. Setelah itu, ia mengirimkan CV tersebut ke sejumlah universitas di Amerika Serikat dan Inggris dan mengajukan beasiswa.

Pengfei mengalami banyak kendala hingga ia frustrasi karena terlalu sering mendapat penolakan. Ia bahkan berkata jika dia tidak diterima, ia memutuskan untuk bekerja. Entah di Shanghai, kota lain, atau di luar negeri. Sebagai sahabatnya, saya tentu mendukungnya untuk terus berusaha meraih cita-citanya. Singkat cerita, akhirnya Pengfei diterima dengan beasiswa penuh di University of Missouri. Saat ia mendapat kabar itu, ia gembira bukan main dan segera menghubungi saya sambil mengucapkan terima kasih. Saya juga turut senang dengannya.

“Terima kasih, Xiaoping (Xiaoping adalah nama Mandarin saya). Kalau tidak mengenal kamu, mungkin saya tidak akan pernah bisa mencapai impian saya untuk melanjutkan program doktoral ke Amerika. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikanmu. Katakan saja apa yang pantas saya berikan buat kamu sebagai tanda terima kasih,” begitu katanya di aplikasi pesan instan WeChat.

“Ah, ini semua karena usaha dan kerja kerasmu. Saya hanya memeriksa CV-mu dan memberi tahu kamu mana saja yang harus kamu perbaiki. Kamu tidak perlu membalas apa-apa.”

Pengfei hanya tertawa.

Beberapa bulan kemudian, saya kembali menghubungi Pengfei dan mengatakan tujuan kedatangan saya ke Beijing. Saya bertanya kepadanya, di mana saya bisa membeli kamus Oxford for Advanced Learner. Saya juga mengirimkan foto kamusnya yang saya ambil dari situs Aliexpress.

Jawaban Pengfei sungguh di luar dugaan.

“Oh, kebetulan aku punya kamus ini, tapi yang aku punya edisi 6. Sedangkan yang ini edisi 9. Keduanya tidak berbeda jauh. Kondisinya masih cukup bagus dan terawat. Kalau kamu tidak keberatan, aku akan memberikan kamus ini untukmu saat kamu sudah tiba di Beijing, sebagai tanda terima kasih dariku. Beri tahu aku alamat lengkap hotel tempat kamu menginap.”

Saya sudah katakan saya akan membelinya sendiri, sehingga tidak merepotkan Pengfei. Saya khawatir dia harus menanggung ongkos kirim yang cukup besar dari Changsha ke Beijing. Namun, Pengfei tetap bersikeras. Akhirnya, saya pun mengalah.

“Kamu sudah membantu saya mencapai impian saya. Sekarang aku akan membantumu mencapai impianmu. Saya harap dengan adanya kamus ini, nantinya cita-citamu menjadi penerjemah komik bisa tercapai.”

Saya mengaminkannya. Seminggu sebelum tanggal keberangkatan, saya memberi tahu alamat lengkap hotel tempat saya tinggal kepadanya. Saya meminta Pengfei mengirimkannya dengan jasa kurir yang reguler sehingga tidak membebaninya, mengingat Pengfei juga belum bekerja.

Ketika kamus tersebut sudah berada di tangan saya, perasaan saya campur aduk. Senang, lega, puas, dan juga terharu. Saya menelepon Pengfei dan berulang kali mengucapkan terima kasih. Dua bulan kemudian, Pengfei pamit dan berangkat ke Amerika Serikat. Namun, meski ia sekarang berada jauh di sana, sampai detik ini ia masih berhubungan dengan saya dan sesekali menanyakan kabar.

Kamus Oxford, hadiah dari sahabatku, Ma Pengfei.

Hingga kemudian, saat saya hendak pulang, tawaran untuk menjadi penerjemah datang melalui suami teman saya di Beijing. Tanpa berpikir dua kali, saya memutuskan untuk ikut tesnya dan dinyatakan lulus. Jalan untuk menjadi penerjemah pun terbuka.

Sama seperti Pengfei, impian saya saat ini juga telah tercapai. Saya menerjemahkan komik, sekaligus menjadi LQA untuk komik-komik yang hendak diterbitkan. Kami memang sahabat yang sama sekali belum pernah bertemu secara langsung. Namun, saya sangat menghargai pertemanan ini dan saya mendoakan Pengfei setidaknya saat ia lulus lima tahun mendatang, ia bisa memberikan kontribusi terbaik kepada bangsa dan negaranya.

4 tanggapan pada “Kami Belajar dan Sukses Bersama”

  1. Pepatah yang mengatakan apa yang kamu tanam, adalah apa yang kamu tuai merupakan perumpamaan yang cocok untuk cerita ini mbak. Membantu orang lain kadang juga membuat hati sendiri senang, karena merasa diri kita memiliki sesuatu yang bisa berguna untuk orang lain

    1. Setuju, mas. Saya percaya, apa saja yang kita lakukan, entah baik atau buruk, akan kembali ke diri kita sendiri, cepat atau lambat.

Tinggalkan Balasan