Kelenteng Hok An Kiong, Salah Satu Kelenteng Tertua di Surabaya

  • by

Beberapa saat yang lalu, saya berkesempatan lagi mengunjungi Kelenteng Hok An Kiong, yang dikenal sebagai salah satu kelenteng tertua di Surabaya. Kelenteng ini merupakan kenangan masa kecil saya, sebab setiap hari Minggu saya selalu melewati kelenteng legendaris ini, untuk beribadah di sebuah gereja kecil yang letaknya tak jauh dari situ. Boleh dikatakan, saya sangat familiar dengan kelenteng ini. Namun, saya baru pertama kali masuk ke kelenteng ini untuk melihat-lihat pada usia dewasa.

Masyarakat di sekitarnya menyebut kelenteng ini dengan nama Kelenteng Cokelat, karena terletak di Jalan Cokelat. Tepatnya, kelenteng ini terletak di ujung Jalan Cokelat, tersembunyi di antara toko-toko milik pedagang etnis Tionghoa dan bank-bank swasta. Kelenteng ini terbuka untuk umum setiap hari, mulai pukul 06.00 hingga 16.00. Kelenteng ini terletak di wilayah Surabaya Utara, yang terkenal sebagai kampung Tionghoa Surabaya. Banyak etnis Tionghoa generasi senior yang tinggal di daerah ini dan mempertahankan budaya dan tradisi mereka.

Karena kelenteng ini termasuk salah satu cagar budaya, pemerintah kota Surabaya mengadakan heritage tour setiap hari Selasa dan Jumat untuk para wisatawan asing dan pengunjung dari dalam maupun luar Surabaya yang ingin mengenal sejarah kota Surabaya. Bahkan, pemerintah kota Surabaya sendiri menyediakan shuttle bus gratis untuk kegiatan ini, yang bertolak dari House of Sampoerna. Namun, karena adanya pandemi, kegiatan ini untuk sementara ditiadakan.

Altar Dewi Kwan Im. Saat saya datang, ternyata ada perayaan Dewi Kwan Im naik ke nirwana.

Menurut pengurusnya, kelenteng ini sudah didirikan pada tahun 1830. Awalnya, bangunan ini difungsikan sebagai tempat pemberhentian sementara bagi para pendatang dari Tiongkok, sebelum akhirnya berubah fungsi menjadi tempat ibadah.

Sebagaimana rumah yang memiliki tuan rumah, kelenteng ini juga punya tuan rumah, yaitu Dewi Makco, atau dalam bahasa Mandarin disebut 天上圣母 tianshang shengmu. Beliau merupakan dewi yang menguasai tujuh samudera di dunia dan dipercaya sebagai pelindung para perantau Tionghoa yang meninggalkan tanah leluhur saat mereka bermigrasi ke tempat lain. Bahkan, Laksamana Zheng He (Cheng Ho) dipercaya membawa rupang Dewi Makco di dalam kapalnya saat beliau melakukan ekspedisi, meskipun beliau menganut agama Islam.

Pada zaman dulu, banyak perantau Tionghoa yang membawa rupang atau arca Dewi Makco agar mereka selamat dalam perjalanan menuju tempat tujuan mereka.

Selain Dewi Makco, ada 22 altar dewa lain yang ada di kelenteng ini. Di antaranya adalah altar Tuhan Yang Maha Esa, Dewi Kwan Im, Buddha Gautama, Nabi Konghucu, dan lain-lain. Meskipun kelenteng ini adalah tempat beribadah bagi umat Tridharma (Buddha, Konghucu, dan Tao), tapi umat kepercayaan lain juga diperbolehkan datang ke kelenteng ini.

Kelenteng Hok An Kiong bernaung di bawah Yayasan Sukhaloka. Di hari-hari biasa, kelenteng ini sepi pengunjung dan hanya sesekali dihadiri oleh umat yang datang bersembahyang pada tanggal 1 dan 15 kalender Imlek.

Sebaliknya, kelenteng ini sangat ramai pada saat hari-hari besar etnis Tionghoa. Sebut saja saat perayaan Imlek, festival lampion, sembahyang rebutan, dan festival kue bulan. Kelenteng akan dihiasi dengan ornamen berwarna merah yang cantik dan lilin-lilin berukuran besar. Selain itu, kelenteng juga sangat ramai ketika perayaan ulang tahun para dewa-dewi.

 

Tinggalkan Balasan