Ketika Kesempatan Itu Tiba

  • by

Akhirnya, saya pun bahagia karena saya bisa belajar bahasa Mandarin. Namun, kebahagiaan saya tidak berhenti sampai di situ. Tantangan demi tantangan mulai menguji iman saya.

Karena Papa seorang sales, Papa jarang berada di rumah. Jadi, saya harus naik angkot dua kali ke tempat kursus saya. Demikian juga pulangnya. Tak jarang pula saya harus rela basah kuyup saat hari hujan.

Guru saya bernama Zheng Fuyin, berasal dari Taichung, Taiwan. Beliau seorang wanita berusia 60 tahunan dan seorang misionaris yang melayani di gereja pusat tempat saya beribadah. Karena tempat kursus saya didirikan oleh yayasan, biayanya amat sangat terjangkau. Saya les seminggu dua kali, Selasa dan Jumat, pukul 17.00 hingga 19.00.

Setengah jam pertama diawali dengan ibadah bahasa Mandarin. Saya sampai hafal doa Bapa Kami dan Pengakuan Iman Rasuli di luar kepala. Kemudian dilanjutkan dengan kursus. Setelah kursus selama satu jam, setengah jam berikutnya adalah kelas budaya. Kami diajarkan kaligrafi dan bermain guzheng (alat musik petik tradisional Tiongkok). Namun, karena rumah saya jauh, saya tidak bisa mengikuti sesi terakhir.

Karena guru saya berasal dari Taiwan, maka saya diajarkan traditional Chinese, yang mana memiliki guratan huruf lebih banyak dan sangat sulit. Saya juga harus menghafalkan abjad fonetiknya sebelum bisa membaca karakter Mandarinnya. Setiap hari saya mendisiplinkan diri berlatih menulis satu karakter tiap hari, kemudian lama-lama meningkat menjadi tiga hingga lima karakter. Saya sangat rajin mencatat semua kosa kata baru dan menirukan kalimat-kalimat yang diucapkan guru saya. Membeo, istilahnya.

Meskipun guru saya sudah berusia enam puluhan tahun, tapi beliau sangat teliti. Beliau tahu apakah karakter yang saya tulis salah goresan atau bahkan kurang. Beliau tidak segan-segan menyuruh muridnya menulis ulang jika dinilai tidak rapi. Sikap beliau memang sangat disiplin.

Sebagai tambahan, pada saat itu pelajaran bahasa Mandarin belum masuk ke sekolah swasta di Indonesia, jadi generasi senior pun hanya mengetahui aksara Mandarin tradisional. Kalaupun ada, biasanya hanya diajarkan di sekolah internasional dan sebagai ekstrakurikuler.

Saat itu tidak ada kamus bahasa Mandarin-Indonesia, jadi kosa kata yang saya kuasai murni hanya dari guru saya. Saya juga mulai rajin menonton film-film Mandarin dan mencatat apa saja yang dikatakan aktor/aktrisnya dan menirukannya.

Melihat ketekunan saya, tak jarang saya dirundung sepupu maupun teman-teman saya. Saya dianggap kurang kerjaan dan gila karena sering bicara sendiri. Saya juga dibilang kuno, karena belajar bahasa Mandarin. Namun, tak sedikit pula orang-orang generasi baby boomers yang mengacungkan jempol kepada saya dan memuji ketekunan saya. Jarang sekali generasi muda yang mau belajar bahasa Mandarin. Jangankan belajar, melihat hurufnya yang bagaikan hanya bisa dibaca oleh para dewa di nirwana sana sudah cukup membuat siapa saja yang mau belajar menjadi ciut hati.

Ya, saya akui memang sulit. Menghafalkan hurufnya yang rumit dan nadanya yang seperti orang sedang menyanyi merupakan tantangan untuk belajar bahasa Mandarin. Namun, bukan berarti tidak bisa.

Saya tidak peduli. Saya tutup mata. Saya hanya berfokus untuk menguasai bahasa Mandarin. Layaknya seorang pendekar silat, guru saya juga berpesan bahwa saya harus memantapkan dasar-dasar bahasa Mandarin saya. Beliau juga mengajarkan kepada saya rumus dan petunjuk bagaimana cara memahami penulisan huruf Mandarin dan mengetahui artinya, sehingga saya belajar pun sangat menyenangkan.

“Jangan dihafalkan. Kamu harus memahaminya. Kamu sudah tahu pola dan rumusnya, maka tidak akan ada yang sulit bagimu,” begitu pesan guru saya.

Beliau juga mengajarkan saya bagaimana menyuarakan nadanya.

Sayang sekali, masa studi saya tidak lama. Tak sampai dua tahun kemudian, visa kerja guru saya habis dan beliau pulang ke Taiwan pada awal tahun 2001. Beliau tidak memperpanjang visa kerjanya. Saya sangat sedih dan kehilangan. Saya masih merasa belum cukup memantapkan dasar-dasar saya saat itu. Meskipun guru saya sudah memberikan nomor ponselnya dan kami masih sempat berkirim pesan pendek saat awal-awal beliau pulang ke Taiwan, nomor itu sudah tidak aktif beberapa bulan kemudian.

Beliau hanya berpesan satu hal: Jangan pernah berhenti belajar, kelak suatu saat apa yang sudah saya ajarkan akan sangat bermanfaat buatmu.

Satu-satunya kenangan dari beliau adalah Alkitab bahasa Mandarin dalam aksara tradisional yang sampai saat ini masih saya simpan (saya lebih sering menggunakan Alkitab bahasa Mandarin dalam aksara sederhana).

Setelah guru saya pulang, saya sama sekali tidak menyadari bahwa saya memulai babak baru yang tak kalah mengasyikkan …

Tinggalkan Balasan