Menembus Pasar Internasional: Be a Specialist!

  • by

Bagi seorang penerjemah, bisa bekerja sama dengan agensi maupun klien langsung dari luar negeri merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Siapa yang tidak mau jika bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik, apalagi kalau klien sering repeat order, bahkan dikontrak untuk proyek jangka panjang? Ditambah lagi, pengalaman tersebut bisa mempercantik CV sekaligus menambah rasa percaya diri kita.

Namun, apakah semudah itu mendapatkan proyek atau klien dari luar negeri? Tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh usaha, doa, waktu yang tidak sebentar, dan mungkin saja faktor keberuntungan juga berpengaruh di sini.

Jika kita ingin mendapatkan proyek atau klien dari luar negeri, maka kita harus menjadi seorang penerjemah yang spesialis. Apa maksudnya? Maksudnya, kita haruslah seorang yang ahli dalam suatu bidang tertentu. Misalkan, kita sangat menguasai atau berpengalaman menerjemahkan dokumen otomotif, maka, jika kita ingin mendapatkan proyek terjemahan dari luar negeri, kita harus fokus ke bidang otomotif dan sangat disarankan untuk tidak menerima proyek terjemahan di luar bidang tersebut. Dengan demikian, keahlian kita tersebut dianggap nilai plus di mata klien.

Berdasarkan pengalaman saya, agensi dan klien dari luar negeri lebih menyukai penerjemah yang spesialis daripada yang generalis. Alasannya karena penerjemah yang spesialis diyakini lebih serius dan lebih memahami terminologi di bidang yang dikuasainya.

Itulah sebabnya mengapa saat saya mengirimkan CV ke beberapa agensi di luar negeri, saya tak kunjung mendapatkan balasan. Hingga akhirnya pada suatu ketika, saya mendapatkan surel dari seorang project manager dari salah satu agensi di Australia yang kurang lebih bunyinya:

Silvia, terima kasih atas surel Anda. Saat mempertimbangkan CV Anda, saya melihat bahwa Anda punya pengalaman di beberapa bidang. Apakah Anda bisa memfokuskan diri untuk menerjemahkan di satu atau dua bidang yang Anda kuasai atau yang Anda sukai saja? Ini sangat penting untuk kelangsungan karier Anda, sehingga Anda akan mendapatkan poin plus dan pengalaman Anda bisa lebih mendalam. Jujur saja, saya juga tidak tahu hendak memberikan Anda proyek terjemahan yang seperti apa jika pengalaman kerja Anda bervariasi. Harap Anda pertimbangkan.

Deg! Jantung saya terasa seperti berhenti berdetak ketika membaca surel tersebut. Dari situ saya mulai memahami mengapa lamaran saya yang lain tidak kunjung mendapat balasan, yaitu karena saya tidak fokus kepada satu bidang.

Memang, saya menyukai novel, komik, film, dan gim. Saya ingin mengerjakan semuanya. Namun, pada akhirnya, saya tidak boleh serakah dan tetap harus memilih bidang mana yang hendak saya lakukan. Akhirnya, saya memutuskan untuk memilih gim. Alasannya sederhana, karena memang saya suka.

Saya dibesarkan di lingkungan keluarga yang didominasi pria. Boleh dikatakan saya juga sering memainkan gim saat saya masih kecil, meski frekuensinya tidak sesering para sepupu laki-laki saya. Saya memainkan game NES (Nintendo Entertainment System) yang populer di zaman itu, yang mana satu perangkat lengkap gim konsol terdiri dari berbagai macam permainan yang seru. Sebut saja seperti Mario Bros, Mappy, Pac-Man, Donkey Kong, dll. Jadi, jika saya memilih untuk menerjemahkan gim, saya seakan kembali ke masa kecil saya, meski gim di zaman modern ini sudah berbeda jauh dengan NES yang super jadul.

Saat diwawancarai untuk proyek penerjemahan gim, talent hunter yang mewawancarai saya via Zoom saat itu bertanya apa gim yang pernah saya mainkan? Saya sebutkan judul-judul gim di atas dan saya memperhatikan beliau tampak takjub. Mungkin beliau berpikir game tahun berapa yang saya mainkan itu? Memang tidak dipungkiri NES sangat populer di zamannya. Hampir semua anak laki-laki pasti pernah memainkannya.

Atau beliau juga bisa menebak usia saya yang sebenarnya dari jawaban saya. Hahaha … saya jadi malu kalau mengingatnya. Meski pada akhirnya kami mencapai kata sepakat, saya bersyukur dengan kehadiran dan kenangan saya akan gim NES setidaknya membuka peluang kerja untuk saya saat ini. Setidaknya saya masih bisa menjawab saat ditanya pertanyaan-pertanyaan seputar gim.

Namun, meski saya suka bermain gim, saya sama sekali tidak berkeinginan menjadi pemain gim profesional seperti Jess No Limit atau Kimi Hime.

Karena saya seorang freelancer, saya tidak mendapat kesempatan untuk mencoba gim yang saya terjemahkan. Namun, buat saya pribadi, hal itu bukan masalah besar. Saya bangga akan pilihan saya. Saya hanya ingin memberikan yang terbaik dari pekerjaan yang saya lakukan dan dinikmati oleh banyak orang pada akhirnya.

Tinggalkan Balasan