Pengalaman Menjadi Pekerja Lepas

  • by

Bulan September 2020 ini tepat setahun saya menjadi pekerja lepas sebagai seorang penerjemah. Suatu karier yang tidak pernah saya lupakan. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Odivee Digital, perusahaan digital marketing yang berbasis di Shenzhen, Tiongkok, yang pertama kali membukakan pintu dan kesempatan bagi saya untuk menjadi penerjemah.

Saya sangat sadar pengalaman saya masih sedikit dan belum bisa dibandingkan dengan rekan-rekan penerjemah senior. Saya masih harus banyak belajar dan meningkatkan keahlian saya. Banyak pengalaman yang saya alami selama setahun ini, di antaranya:

1. Harus bisa membagi waktu

Sebagai seorang istri, saya harus bisa membagi waktu saya dengan keluarga. Karena bekerja dari rumah, seringkali saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus. Mendampingi si kecil belajar, mengurus keluarga, termasuk harus mengurus pekerjaan saya sendiri sebagai penerjemah. Saya harus bersikap profesional kepada klien, project manager, maupun vendor. Seringkali pula saya harus bekerja di akhir pekan. Namun, bagi saya, itu tetap menyenangkan. Saya akan jauh lebih stres jika menganggur.

Ilustrasi pekerja lepas. Sumber: Kompas.

Ilustrasi pekerja lepas. Sumber: Kompas.

2. Punya teman dan komunitas baru

Karena saya seorang penerjemah, saya pun masuk ke dalam komunitas para penerjemah. Tak hanya penerjemah saja, melainkan saya juga mengenal para penulis, juru bahasa, dan voice over talent atau pengisi suara. Berinteraksi dengan mereka sangat mengasyikkan. Saya mendapat banyak pengalaman baru. Bahkan, saya juga pernah berkolaborasi dengan beberapa pengisi suara untuk seleksi sebuah proyek gim. Terkadang, saya juga mendapat informasi dan referensi lowongan pekerjaan dari mereka.

Saya belajar banyak dari pengalaman para penerjemah senior. Seperti misalnya menetapkan tarif, bernegosiasi, memilih piranti lunak penerjemahan, membuat terminologi, hingga berbagi pengalaman suka dan duka mereka.

3. Harus menjaga kesehatan

Sebagai seorang pekerja lepas, selain harus pandai mengatur waktu, saya juga harus menjaga kesehatan. Biar bagaimanapun juga, kesehatan adalah yang terutama. Kalau sakit, selain harus keluar uang untuk berobat, saya pasti harus meninggalkan pekerjaan pula. Apalagi di masa-masa pandemi seperti saat ini, saya dan keluarga harus meningkatkan imun tubuh dan menjaga kesehatan.

Pernah suatu kali, saat mengerjakan sebuah proyek pelokalan gim. Gusi saya bengkak dan gigi saya sakit, sehingga menyebabkan saya migrain. Awalnya, saya hanya meminum obat pereda nyeri dan berencana akan menemui dokter gigi setelah proyek selesai. Namun, setelah efek obatnya habis, rasa sakit di kepala saya timbul lagi, hingga saya hanya bisa terkapar di tempat tidur.

Saya sempat menghubungi dokter gigi langganan saya, tapi sayang sekali beliau tidak berani buka praktik, karena pada saat itu masih masa PSBB. Dibantu beberapa teman, akhirnya saya direferensikan salah satu dokter gigi yang buka praktik di rumahnya. Setelah diobati, migrain yang saya derita hilang seketika.

4. Bekerja dengan zona waktu yang berbeda

Karena sejak awal saya bekerja sama dengan agensi di luar negeri, maka proyek-proyek yang saya dapatkan berikutnya juga dari luar negeri. Ada pula yang dari agensi lokal Indonesia, tapi tidak banyak.

Karena bekerja sama dengan agensi di luar negeri, saya harus perhatikan baik-baik perbedaan zona waktu antara Indonesia dengan agensi tersebut, terutama jika project manager sudah mencantumkan tenggat waktu jam sekian waktu lokal mereka. Jika agensinya berada di Tiongkok, mungkin tidak masalah, karena hanya berbeda satu jam lebih cepat dari Indonesia.

Namun, saat ini, saya juga mengerjakan proyek salah satu agensi di Irlandia, yang perbedaan waktunya 7 jam lebih lambat dari Indonesia. Saya harus online di jam-jam tertentu yang sudah disepakati. Atau, jika saya mengikuti webinar yang diadakan oleh salah satu organisasi yang saya ikuti, seringkali saya harus online pada saat mendekati tengah malam.

5. Harus pandai mengatur keuangan

Sebagai pekerja lepas, saya mendapat penghasilan saya berdasarkan berapa proyek yang sudah saya kerjakan dalam sebulan. Terkadang dalam satu bulan saya sama sekali tidak ada proyek penerjemahan, tapi di lain waktu, saya bisa sangat sibuk.

Komisi yang diberikan oleh agensi biasanya tidak langsung diberikan setelah proyek selesai. Biasanya, saya harus menunggu tim LQA (Language Quality Assurance) untuk memeriksa terjemahan para penerjemah. Ini biasanya memakan waktu cukup lama, tergantung besar kecilnya proyek. Jika tim LQA sudah selesai melakukan tugasnya, maka saya harus mengirimkan invoice danĀ  baru akan mendapat komisi saya enam puluh hari dari tanggal invoice saya.

Meski di pekerjaan saya sebelumnya saya juga adalah pekerja lepas, tapi setiap bulannya saya masih mendapatkan transferan komisi dari perusahaan. Jadi, berbanding terbalik dengan pekerjaan saya kali ini, saya harus mengatur keuangan baik-baik agar tidak besar pasak daripada tiang.

6. Harus bisa multitasking

Selain mengurus keluarga, sebagai seorang pekerja lepas, saya juga dituntut untuk bisa melakukan banyak hal dan punya banyak peran. Saya harus menagih dan menerbitkan invoice agar jasa saya dibayar tepat waktu, menjadi bos untuk diri sendiri, memasarkan jasa saya di internet, dan harus terus menulis artikel yang bermanfaat untuk blog saya sendiri. Sayang, kan, jika saya tidak memanfaatkan situs saya dengan baik untuk mendapat penghasilan.

Untuk menyiasatinya, saya biasanya sudah mencatat jadwal rutin setiap harinya di Microsoft Excel. Saya sangat bersyukur dengan adanya program Microsoft Excel ini. Piranti lunak ini sangat membantu saya dalam mencatat jadwal penagihan, jadwal mengirim artikel ke blog saya, dll.

Saya terkadang menambahkan kegiatan lainnya yang bersifat tidak rutin, seperti mengirimkan kembali tes terjemahan yang hendak jatuh tempo, mengirimkan CV ke agensi baru, jadwal webinar yang saya ikuti, dll. Pernah suatu kali, saking saya haus ilmu tingkat akut, saya tidak memperhatikan jadwal acara webinarnya, karena saling bentrok.

Nah, itulah pengalaman-pengalaman saya sebagai penerjemah lepas selama ini. Jika kamu punya pengalaman lain, silakan berbagi di kolom komentar.

 

Tinggalkan Balasan