Sembahyang Rebutan dalam Tradisi Tionghoa

Sembahyang rebutan atau sembahyang arwah (literatur lain menyebut cioko dalam dialek Hokkien) adalah salah satu ritual dalam budaya Tionghoa untuk menghormati leluhur dan orang-orang yang sudah meninggal, yang hidup sengsara dan terlantar saat mereka masih hidup. Festival ini jatuh pada tanggal 15 bulan 7 kalender Imlek. Tahun 2020 ini, festival ini jatuh pada tanggal 2 September. Sedangkan umat Budha, penganut kepercayaan Taoisme dan Konghucu menyebutnya Festival Ulambana.

Seperti yang sudah saya tulis dalam artikel sebelumnya, pada bulan 7 kalender Imlek, masyarakat Tionghoa percaya bahwa pada bulan ini, pintu dimensi lain terbuka dan banyak arwah yang datang ke dunia, termasuk arwah leluhur yang datang mengunjungi keturunannya. Masyarakat Tionghoa akan menghormati kedatangan mereka dengan cara memberikan penghormatan di altar leluhur dan memberikan aneka buah, yang umumnya ada tiga jenis, yaitu pir, jeruk, dan apel. Ada pula yang memberikan gula, beras, dan aneka sembako lainnya ke kelenteng, didoakan dan kemudian dibagikan kepada fakir miskin yang tinggal di sekitar kelenteng, sebagai bentuk amal mereka. Itu sebabnya, mendekati upacara sembahyang arwah, biasanya kelenteng-kelenteng dipenuhi oleh aneka sembako yang disumbang dari para umat atau kertas-kertas replika yang nantinya akan dibakar untuk leluhur.

Seorang pria membakar uang replika untuk leluhurnya. Sumber: Motherland Singapore.

Masyarakat Tionghoa memiliki satu konsep yang dipegang secara turun temurun, yaitu kacang tidak boleh lupa kulitnya, air tidak boleh lupa sumbernya. Maksudnya adalah keturunan Tionghoa tidak boleh melupakan asal usul nenek moyangnya, sekalipun sudah merantau ke negara lain. Hal ini pula yang mendorong saya belajar bahasa Mandarin dan budaya Tionghoa. Penghormatan di depan altar leluhur bukan berarti menyembah orang yang sudah tiada atau ngalap berkah, melainkan sebagai tanda bahwa kita mengingat leluhur kita. Selain itu, umat Budha dan Konghucu juga mempercayai akan adanya kehidupan setelah kematian. Itulah sebabnya diadakan upacara menghormati leluhur di depan altar mereka.

Masyarakat Tionghoa juga akan membakar replika aneka benda, seperti kapal, rumah, ponsel, dll, karena mereka percaya bahwa leluhur mereka di alam lain juga membutuhkan keperluan yang sama seperti kita di dunia. Selain itu, mereka juga akan membakar replika uang. Semua ini dilakukan untuk menjaga tradisi dan budaya yang sudah berusia ribuan tahun dan sebagai bakti kepada leluhur. Mereka tak hanya memberikan penghormatan dan doa kepada arwah leluhur saja, tetapi juga arwah lainnya. Jika diibaratkan dalam budaya dan tradisi masyarakat Jawa, kurang lebih sama dengan acara tahlilan, yaitu memanjatkan doa kepada keluarga dan leluhur yang sudah meninggal mendahului kita.

Di Pulau Jawa, mungkin suasana sembahyang rebutan dan festival khas Tionghoa lainnya (kecuali perayaan Imlek dan festival kue bulan) tidak begitu terasa jika dibandingkan dengan kota-kota di luar Pulau Jawa yang didominasi etnis Tionghoa, seperti Singkawang, Pontianak, dan Medan. Hal ini sangat wajar dan lumrah, karena pada masa Orde Baru, segala sesuatu yang berhubungan dengan Tiongkok sangat dilarang oleh pemerintah dan Pulau Jawa adalah pusat pemerintahan, bahkan hingga saat ini.

Namun, sebagai etnis Tionghoa, saya merasa bahwa budaya nenek moyang sudah semestinya tetap kita lestarikan, karena tanpa mereka pun, tentu tidak akan pernah ada kita.

Tinggalkan Balasan