Semuanya Karena Film Mandarin

  • by

Saat saya masih kecil dulu, saya suka sekali nonton film serial silat Legenda Pemanah Rajawali dan Kembalinya Pendekar Rajawali, yang diadaptasi dari novel karya Jin Yong. Serial tersebut ditayangkan oleh salah satu stasiun TV swasta di Indonesia. Film serial silat itu satu-satunya hiburan saya di rumah.

Kaver serial film silat Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali (1983).
Diperankan oleh Andy Lau dan Idy Chan.

Saya lahir dari keluarga etnis Tionghoa yang sederhana. Selain film, buku juga merupakan ‘sahabat’ saya. Meskipun saya lahir sebagai generasi ketiga etnis Tionghoa, tapi keluarga saya satu pun tak ada yang bisa bicara bahasa Hokkien maupun Mandarin. Tak hanya itu saja. Selain saya, tidak ada satu pun di keluarga saya yang tertarik untuk belajar bahasa Mandarin.

Yah, memang sejak kecil saya selalu dipandang sebagai anak yang unik dan nyentrik, sekaligus aneh karena berbeda dengan yang lain. Yang saya sukai memang sangat anti-mainstream, hehehe ….

Yang memukau saya ketika itu tidak hanya jalan cerita film silat dan aksi laganya yang memukau, tapi juga jurus dan nama-nama julukan para tokoh. Sebut saja Bocah Tua Nakal, Sesat Barat, Racun Timur, Pengemis Utara, Hakim Roda Emas, Jurus Delapan Belas Telapak Naga, Tongkat Pemukul Anjing, dll. Namanya unik-unik. Sejak saat itu, saya mulai tertarik dan minta kepada Papa untuk mendaftarkan saya les bahasa Mandarin.

Namun, Papa menolak. Keadaan politik pada masa itu tidak memungkinkan saya untuk belajar, karena pada masa Orde Baru, penggunaan bahasa Mandarin dilarang oleh pemerintah. Merayakan Imlek pun tidak boleh secara terang-terangan seperti sekarang. Keinginan saya kuat, tapi saya tidak punya guru yang bisa membimbing saya. Bahkan, Papa sempat meminta saya mengurungkan niat.

“Lebih baik belajar bahasa Inggris,” begitu kata Papa. Saya tahu Papa sangat peduli kepada masa depan saya sehingga memanggil guru les privat bahasa Inggris untuk membimbing saya. Saya tidak menolak, justru saya juga sangat menikmati saat sesi les bahasa Inggris. Namun, karena saat itu saya sudah terlanjur jatuh cinta pada bahasa Mandarin karena film-filmnya yang saya tonton (meskipun dialihsuarakan ke bahasa Indonesia), jadi saya juga ngotot ingin didaftarkan les bahasa Mandarin juga.

Papa saat itu juga bilang bahwa belajar bahasa Mandarin tidak akan membawa manfaat lebih untuk saya. Toh dalam pergaulan saya sehari-hari, saya tidak pernah menggunakannya. Maklum, saat itu bahasa Mandarin juga belum sepopuler sekarang dan digunakan terbatas hanya kalangan tertentu.

“Kalau mau belajar bahasa, kamu harus punya sparring partner yang juga bisa bahasa Mandarin dan itu pun harus dipakai setiap hari supaya kamu tidak lupa. Kamu sanggup menghafalkan ribuan hurufnya itu? Bahasa Mandarin itu sulit.”

Sengotot apa pun keinginan saya, saya tidak punya pilihan selain pasrah. Situasi tidak memungkinkan. Guru juga tidak ada. Saya tidak mungkin punya kesempatan belajar, kecuali jika Papa mengirimkan saya untuk belajar ke Tiongkok, tapi itu pun tidak mungkin terjadi. Papa tidak mungkin rela melepas putri tunggalnya yang sangat dicintainya ini belajar di luar negeri dan hidup sendirian ;P

Hingga saat saya menginjak usia remaja, saat libur kenaikan sekolah tahun 1999, saya mendapat informasi lisan bahwa di gereja pusat tempat saya beribadah akan membuka kelas bahasa Mandarin (saya beribadah di cabang). Saya senang bukan main dan mendesak Papa untuk segera mendaftarkan saya. Lagi-lagi, Papa tidak bersedia karena takut terjadi kerusuhan dan tindakan anarkis seperti yang terjadi pada tahun 1960an kepada WNI etnis Tionghoa di tempat saya akan belajar. Meski saat itu Soeharto sudah lengser dari jabatannya sebagai presiden, tapi sepertinya trauma dan ketakutan WNI etnis Tionghoa tidak bisa lenyap begitu saja.

Gereja yang membuka kursus bahasa Mandarin itu adalah salah satu gereja di kota saya yang dibom pada Mei 2018 lalu. Jaraknya cukup jauh dari rumah saya saat itu.

Keinginan saya sudah tidak bisa dibendung lagi. Sekaranglah kesempatan saya! Saya harus belajar! Kalau tidak, mungkin saya tidak akan punya kesempatan lagi. Saya terus mendesak Papa untuk mengizinkan saya belajar.

“Saya janji saya pasti belajar baik-baik!” begitulah janji saya.

Akhirnya, Papa menyerah. Papa mendaftarkan saya. Saya senang sekali. Rasa senang saya saat itu sama seperti kalau kamu menang undian lotere sebesar Rp 1 milyar ;P

Sejak saat itu, petualangan saya pun dimulai ….

Tinggalkan Balasan