Serunya Nonton Wayang Potehi, Sebuah Kebudayaan Tionghoa Kuno yang Hampir Punah

Siang yang terik saat itu menunjukkan hampir pukul 13.00 WIB. Ditemani oleh suami, saya masuk ke area Kelenteng Hong Tek Hian, di Jalan Dukuh, Surabaya. Karena terletak di Jalan Dukuh, kelenteng ini juga disebut sebagai Kelenteng Dukuh oleh masyarakat sekitar. Kelenteng ini merupakan salah satu kelenteng tertua di kota Pahlawan. Lokasinya tak jauh dari sebuah tempat legendaris zaman penjajahan, yaitu Jembatan Merah.

Lokasi kelenteng ini memang di jalan raya, tenggelam di antara keramaian dan padatnya toko-toko yang ada di sekitarnya. Namun, tujuan saya datang ke kelenteng ini bukanlah untuk bersembahyang, melainkan untuk menonton pertunjukan wayang Potehi. Kebetulan saya mengenal istri salah satu pengurus di kelenteng ini, dan dari beliaulah saya mendapatkan informasi bahwa di kelenteng ini mengadakan pertunjukan wayang Potehi.

Wayang Potehi diyakini berasal dari Tiongkok bagian selatan dan dibawa oleh leluhur etnis Tionghoa zaman dulu ke Indonesia. Sayangnya, karena kebijakan pemerintah di masa lalu yang melarang pertunjukan semua kebudayaan Tionghoa, membuat tak banyak generasi muda etnis Tionghoa yang mengenal wayang ini. Jangankan mengenal, mendengarnya pun pasti sudah membuat generasi muda mengerutkan dahi. Bahkan, pada saat saya datang pun, semua pemainnya berasal dari suku non Tionghoa. Meski begitu, mereka tampak cakap saat memainkannya, karena sudah terbiasa melakukannya bertahun-tahun

Terdengar suara genderang dan alat musik tradisional lain yang ditabuh sebagai tanda awal acara. Sesekali tercium bau harum dupa dari umat yang datang bersembahyang. Penontonnya tentu saja hanya kami berdua, tak ada yang lain. Namun, para pengurus yang ada di sana saat itu mengatakan bahwa sebenarnya yang menonton bukan hanya kami berdua, melainkan juga para dewa. Karena sejatinya pertunjukan ini dipersembahkan untuk para dewa. Pertunjukan wayang Potehi ini diadakan setiap hari mulai pukul 13.00 hingga 15.00 WIB. Baik ada maupun tidak ada penonton, pertunjukannya akan tetap terus diadakan. Namun, pengurus kelenteng juga mengatakan bahwa umat kelenteng yang memiliki hajat tertentu dan dikabulkan para dewa juga bisa meminta pertunjukan wayang Potehi ini diadakan secara khusus sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada para dewa.

Tidak ada biaya sama sekali untuk menikmati pertunjukan wayang Potehi ini. Orang luar pun yang bukan pemeluk agama Konghucu maupun Taoisme juga diizinkan datang untuk menonton.

Wayang potehi adalah wayang yang dimainkan dengan boneka kain, sebagaimana pertunjukan panggung boneka di zaman modern. Para pemain memasukkan jari-jari mereka pada bagian bawah boneka kain. Pada umumnya, ceritanya berkisah mengenai kepahlawanan, seperti Sun Gokong, atau Sam Kok, atau cerita lain yang terjadi pada masa kuno. Selama dua jam menontonnya, saya sangat menikmati dan terhibur, meskipun saya tidak begitu memahami narasi dan dialog yang diucapkan oleh dalangnya, karena menggunakan dialek Hokkien. Sedangkan saya tidak mengerti dialek Hokkien, meski leluhur saya juga berasal dari sana.

Sayang sekali, seiring dengan perkembangan zaman dan efek dari kebijakan pemerintah di masa lalu, membuat kebudayaan Tionghoa semakin menghilang. Wayang Potehi hanya dianggap sebagai budaya masa lalu yang tidak selaras dengan perkembangan zaman.

2 tanggapan pada “Serunya Nonton Wayang Potehi, Sebuah Kebudayaan Tionghoa Kuno yang Hampir Punah”

  1. “..semua pemainnya berasal dari suku non Tionghoa” Saya jadi penasaran, trus mereka dari suku apa ya? Tapi ya intinya salut sih, sudah jadi bagian dari upaya pelestarian. Sekian waktu lalu saya nonton wayang kulit di TV, rasanya malah jadi gimana gitu, soalnya karakter Jawanya kok tidak terasa. Bukan apa-apa, buat saya sayang kalau wayang golek kehilangan kesundaannya, atau tari kecak tergerus kebaliannya. 🙂 Semoga wayang potehi lestari ketionghoaannya. >-I

Tinggalkan Balasan