Tak Ada yang Instan, Semuanya Butuh Proses

Sering kali ada yang bertanya kepada saya, bagaimana caranya supaya bisa mahir berbahasa Mandarin. Ada juga yang bertanya, butuh waktu berapa lama supaya bisa menerjemahkan? Apakah tiga bulan cukup? Enam bulan? Satu tahun?

Saya selalu katakan bahwa belajar ilmu atau keahlian apa pun tidak akan ada yang memberikan hasil instan. Harus selalu sabar, mau untuk terus belajar, dan pantang menyerah. Demikian pula dengan belajar bahasa. Memang benar bahwa sekarang adalah zaman modern, semua serba instan, termasuk tidak sedikit orang yang saya temui atau saya kenal ingin menguasai bahasa Mandarin dalam waktu cepat. Bahkan, kalau perlu langsung bisa dalam waktu semalam bak membangun seribu candi untuk Roro Jonggrang. Hahaha … tidak secepat itu, Ferguso!

Sering kali saya jumpai ada yang berkata, “Nggak perlu belajar huruf Mandarin. Yang penting bisa ngomong.” Saya hanya bisa prihatin. Memang benar nada pengucapan dan huruf Mandarin adalah momok yang ditakuti banyak orang Indonesia yang ingin belajar bahasa Mandarin, sehingga mereka memilih untuk menghindarinya. Namun, secara pribadi, saya berpendapat bahwa tata bahasa, pengucapan, penulisan, mendengarkan, adalah aspek yang tidak bisa dipisahkan, mau belajar bahasa apa pun itu. Ibarat kita mencintai seseorang, kita juga harus bersedia menerima sisi negatifnya. Okelah kalau bisa bicara bahasa Mandarin lancar, tapi kalau tata bahasanya atau nadanya berantakan, bagaimana orang Tiongkok bisa paham apa yang kita katakan? Apalagi bahasa Mandarin adalah bahasa tonal. Salah nada dan/atau pengucapan bisa berbeda arti.

Berdasarkan pengalaman saya sendiri dan rekan-rekan saya yang belajar bahasa Mandarin di Indonesia, paling cepat setidaknya 2-3 tahun kami baru bisa menguasai bahasa Mandarin dasar, mengingat bahasa Mandarin bukanlah bahasa yang umum digunakan di negara tercinta ini. Lha yang ambil sekolah bahasa di Tiongkok saja butuh waktu satu tahun untuk bisa menguasai dasar-dasar bahasa Mandarin, tentu wajar jika kita di sini butuh waktu sedikit lebih lama. Itu pun belum tentu dijamin pasti berhasil, karena setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda untuk meraih hasil yang sama. Tergantung niat dan keseriusan.

Kredit foto: Viriya Shop.

Demikian pula saat saya terjun ke dunia penerjemahan. Semuanya tidak terjadi dalam waktu satu malam. Saya membangun karier saya pelan-pelan. Memang benar bahwa suami teman saya yang bekerja di salah satu agensi penerjemahan di Beijing yang pertama kali membukakan jalan untuk saya, tapi apakah setelah saya menyelesaikan satu proyek dari dia, saya lantas hanya diam menunggu orderan berikutnya? Tentu tidak. Saya mulai rajin mencari proyek-proyek terjemahan hasil pencarian saya di Baidu (Google-nya Tiongkok). Saya setiap hari bangun lebih pagi dan mulai mencari proyek dari sana. Karena baru memiliki satu pengalaman kerja, untuk meyakinkan agensi tersebut bahwa saya kompeten dan punya keahlian bahasa Mandarin-Indonesia bukanlah hal yang mudah, apalagi latar belakang pendidikan formal saya adalah sarjana Sastra Inggris. Saya bahkan bersedia dan rela menjalani tes terjemahan yang diberikan mereka dan saya sangat berterima kasih kepada HRD yang memberikan saya tes.

Proyek yang saya kerjakan saat ini semuanya dari hasil pencarian saya sendiri. Jika saya hanya berdiam diri setelah menyelesaikan proyek saya yang pertama dan menunggu suami teman saya datang memberikan proyek, pasti saya tidak akan mendapatkan peluang dan kesempatan proyek kerja yang baru dari tempat lain.

Karena saya sejak awal sudah terjun di dunia media daring dan hiburan, maka saya juga lebih memfokuskan diri untuk menerjemahkan komik, serial film drama, dan novel. Selain itu, karena saya belajar sejarah dan budaya Tionghoa, saya lebih spesifik ke genre silat, sejarah, dan xianxia (fantasi dewa-dewi). Silakan lihat dan kunjungi akun LinkedIn saya di: https://www.linkedin.com/in/silvia-angelina/

Guru saya pernah mengatakan bahwa untuk belajar bahasa (termasuk menerjemahkan) harus memahami konsep. Ibarat belajar kungfu, saya harus menguasai jurus-jurus dasar dan memantapkannya lebih dulu, barulah mulai bertarung dengan lawan. Bagaimana kita bisa menang melawan musuh kita jika jurus-jurus kungfu kita masih lemah dan kurang mantap? Alih-alih menang, bisa-bisa kita yang dihajar musuh hingga babak belur.

Google Translator hanyalah alat bantu penerjemahan. Sama seperti kita selalu menganggap bahwa kalkulator adalah alat bantu menghitung, tapi kita tidak menggantungkan sepenuhnya terhadap benda ini, bukan? Namun, kita pasti sudah hafal konsep dasar Matematika, seperti tambah, kurang, bagi, kali, kuadrat, dll. Bahkan, oleh guru matematika kita dulu, bukankah kita harus hafal di luar kepala perkalian dan pembagian 1-10? Bukankah kita juga selalu ditekankan bahwa perkalian dan pembagian harus dihitung lebih dulu, kecuali perhitungan yang diberi tanda kurung?

Maksud saya, 7×8+10-2 pasti hasilnya berbeda dengan 7×8+(10-2), bukan? Inilah yang disebut konsep/rumus. Orang yang memahami konsep Matematika dasar, di luar kepala pasti sudah paham bahwa untuk soal yang pertama, 7×8 harus dihitung lebih dulu, sedangkan untuk soal kedua 10-2 harus dihitung lebih dulu.

Begitu pula dengan belajar bahasa dan penerjemahan. Jika ingin menerjemahkan, kedua pasangan bahasa, baik bahasa Indonesia ataupun bahasa Mandarin harus dikuasai dengan sangat baik, dan itu butuh waktu yang tidak sebentar. Saya sangat menyayangkan jika ada seseorang yang baru dalam hitungan bulan belajar bahasa Mandarin langsung menerjemahkan dan hanya mengandalkan Google Translator atau mesin penerjemah lainnya, tanpa memahami konsep secara mendalam. Ini tentunya akan sangat berpengaruh pada kualitas hasil terjemahan, kredibilitas, tanggung jawab, dan integritas orang tersebut.

Saya yakin saja apa yang dipelajari secara instan dan buru-buru tidak akan memberikan hasil yang maksimal dan tidak mendalam. Bahkan, saya sendiri merasa apa yang sudah saya pelajari itu masih baru kulitnya dan saya masih harus banyak belajar lebih dalam. Demikian pula guru-guru saya selalu mengingatkan bahwa ilmu itu tidak akan ada habisnya untuk dipelajari.

Nikmati dan jalani saja prosesnya, pasti akan membuahkan hasil yang manis di kemudian hari. Batu berlian membutuhkan proses lebih lama untuk membuatnya indah dan bernilai mahal.

4 tanggapan pada “Tak Ada yang Instan, Semuanya Butuh Proses”

  1. Silvia, sosok penulis yang saya kenal sangat berdedikasi dalam bidang yang digelutinya bukan hanya sastra mandari namun budaya tirai bambu pun dikenalnya.

    Profesionalismenya tidak perlu diragukan lagi, juga sebagai sahabat sangat rendah hati dan mau membantu menerjemahkan bahasa-bahasa yang tidak dimengerti.

    Sukses selalu Silvia….

  2. Dari tulisan yang dibuat Silvia saja kita sebagai pembaca sudah dibuat kagum karena apa yang diutarakan memang sangat masuk akal dan realistis…apalagi hasil karya terjemahannya pastilah tidak diragukan lagi…sukses selalu ya

Tinggalkan Balasan